Bismillaahirrohmaanirrohiim...
Kemenangan da’wah dapat membuat sebagian aktivis da’wah terlena dan tertipu. Fitnah dunia berupa harta, jabatan, dan popularitas berpeluang menggelincirkan niatan yang tadinya teguh dan kokoh. Maka tak heran jika futur bahkan insilakh dari jalan da’wah terjadi pada sebagian kader karena sibuk memperebutkan “sampah-sampah dunia”. Ironis sekali jika aktivis da’wah menukar jalan da’wah yang mahal ini dengan “sampah” yang nista dan bernilai rendah. Camkanlah perkataan Imam Syahid Hasan Al Banna ini: “Kami tidak mengharapkan sesuatu dari manusia; tidak mengharapkan harta benda atau imbalan yang lainnya, tidak juga popularitas, apalagi sekadar ucapan terima kasih. Yang kami harap hanyalah pahala dari Allah, Dzat yang telah menciptakan kami.”
"Bila benar-benar kita mukmin, ikhwah apalagi qiyadah pasti akan mendasarkan pada paradigma berpikir yang bersifat ketuhanan (manhaj tafkir rabbani) juga. Sehingga sikap al wala wal baro'nya sangatlah jelas. Tidak confuse dan talbiz. Manhaj Tuhan itu (Islam) telah menyediakan bagi para da'i/aktivis satu manhaj tersendiri dalam berpikir dan bertindak, yang mampu menghindarkan keterjerumusan dalam kehidupan jahiliyah. Di manakah posisi kita hari ini? Apakah masih tergolong orang-orang yang tsabat dengan manhaj rabbani atau telah tersungkur ke dalam barisan pengejar rente kekuasaan? dan pasti akan hina di mata manusia dan di sisi Allah" (Ustadz Mashadi)
"Salah satu faktor yang menyebabkan runtuhnya nilai-nilai perjuangan dalam dunia politik adalah saat materi menjadi tujuan utama dan gaya serta penampilan lebih diutamakan." (Ustadz Didin Hafidhuddin, Republika 7 Agt 08)
Kemenangan bisa berbalik menjadi kekalahan karena ketidakmampuan memanfaatkan peluang yang ada, hingga akhirnya musuh-musuh Allah yang masuk dan berperan. Jangan sampai karena mengejar target-target siyasi, menggeser prioritas tarbiyah sebagai inti kekuatan da’wah. Jangan gara-gara kesibukan dalam da’wah ‘ammah, da’wah profesi, maupun da’wah siyasi kader mengenyampingkan ihtimam (perhatian) terhadap tarbiyah. Tarbiyah memang bukan segala-galanya tapi segalanya berawal dari tarbiyah. Musthafa Masyhur telah berpesan: “Jangan sampai perhatian kita kepada politik mengalahkan perhatian kita kepada tarbiyah.”
Pemilu akan selalu mengharuskan parpol (apapun asasnya) untuk mencari suara sebanyak mungkin demi pemenangan. Ada perbedaan yang sangat mendasar antara da’wah dengan kampanye politik. Da’wah, mengajak, memanggil, menyeru manusia untuk beriman dan taat kepada Allah, orientasi/tujuannya adalah Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa. Kampanye politik, mengajak dan menyeru masyarakat kepada partai politik tertentu, orientasinya parpol. Diperlukan reanalisis yang tajam ketika mengadaptasikan da’wah Islam dalam konteks dinamika politik dan demokrasi Indonesia untuk menjaga kemurnian da’wah. Politik praktis dengan segala instrumennya adalah hal yang sangat rentan dan syarat unsur-unsur kepentingan pragmatis sesaat. Maka, tajdidunniat (pembaharuan niat) dan pemahaman yang benar dan lurus harus senantiasa dievaluasi dan diperbaiki oleh para kader da’wah.
Penyebaran da’wah yang pesat –terutama dengan terbukanya da’wah siyasi- dikhawatirkan menimbulkan kesenjangan fikroh antara generasi ‘awal’ degan generasi ‘akhir’ (kader muda) yang bergabung dengan da’wah ini. Bisa dilihat dari berbagai aksi massa yang dilakukan, di mana terlihat semakin beragamnya sikap dan perilaku yang ditampakkan. Hal ini berdampak lebih jauh pada bergesernya orientasi perjuangan ke arah yang berbeda dari fikroh da’wah yang asholah.
Mengokohkan pewarisan fikroh kepada para kader dan simpatisan da’wah bukan berarti meniadakan fiqhud da’wah (etika berda’wah). Atau bukan berarti tidak ada siasat da’wah. Kita perlu berbicara dan berpendapat sesuai dengan pemahaman objek da’wah (sesuai “bahasa kaumnya”). Namun, fiqhud da’wah yang dilakukan seyogyanya tidak menghalangi kader untuk berda’wah dengan “bahasa yang sebenarnya”. Jangan sampai karena alasan fiqhud da’wah, kita menjadi tidak tegas untuk menyampaikan fikroh da’wah yang asholah.
Ri’ayah tarbawiyah mutlak diperlukan para kader ketika menempuh jihad siyasi. Tidak bisa dipungkiri, kader-kader yang futur, kecewa, bahkan memilih insilakh terjadi dalam tubuh jama’ah. Padahal, al quwwah- an nukhbawiyah (sumber daya kader) merupakan aset utama gerakan (rashidul-harakah). Perlu adanya ta’shil (orisinalisasi) dan taf’il (efektivisasi) manhaj dan program tarbiyah untuk mengokohkan kondisi ma’nawiyah, fikriyah dan harakiyah jajaran kader.
Setidaknya ada 3 alasan pokok dibutuhkannya ri’ayah tarbawiyah bagi para kader ba’da pemilu ini.
Pertama, untuk mengatasi min atsar at-ta’biah (dampak mobilisasi). Dalam persiapan hingga hari H pemilu, jajaran kader mengalami mobilisasi secara masif dalam berbagai aspek sumber daya kekuatannya –ma’nawiyah, fikriyah, jasadiyah dan juga maliyah. Tentu saja keterlibatan kader menghasilkan dampak-dampak positif dan negatif. Dampak positif dari perilaku baik kader perlu dikokohkan dengan al-i’tiraf ‘indal injaz (pengakuan atas prestasi), sementara dampak negatif dari perilaku kader perlu dikokohkan dengan al inshaf ‘indal khatha’ (pengoreksian atas kesalahan).
Kedua, untuk mengatasi min atsar al-ihtikak as-siyasi (dampak persentuhan politik). Interaksi kader dalam perpolitikan tentu saja menghasilkan hubungan saling mempengaruhi –yang bisa positif maupun negatif- secara ma’nawi, fikri maupun suluki (perilaku). Misalnya dampak persentuhan dengan pemikiran dan perilaku demokrasi liberal ala Indonesia bisa merembes kepada perilaku sebagian kader dalam amal jama’i dan syura. Tentu saja rembesan polutan seperti ini harus diatasi dengan ta’shil al-mabadi’ (orisinalisasi prinsip-prinsip) dan tathwir al-fikrah (pengembangan konsepsi) yang manhajiyah.
Terkadang, tanpa disadari, ideologi Islam yang dibawa oleh kader terkontaminasi (tersibghoh) dengan pemikiran (ideologi) di luar Islam. Akibatnya, pemikirannya mulai kabur dan luntur. Sebagian kader bahkan lebih PeDe dengan "baju-baju" yang dipakainya, lupa dengan visi dan misi da'wah yang dibawanya, serta sulit membedakan mana yang alat (sarana) dan mana tujuan. Na'udzubillah.....Alloh Ghoyatuna!!
Ketiga, untuk mengatasi min atsar at-tarkiz al-‘amal (dampak pemfokusan kerja). Besar dan beratnya target-target siyasi berkonsekuensi pada keharusan tarkiz al-‘amal di bidang politik, sehingga ada pengurangan bobot dan porsi kerja di bidang-bidang lain, termasuk tarbiyah. Akibatnya –secara teknis di lapangan- misalnya ada halaqoh yang lama madeg (macet), kader yang mutung (ngambek), atau Murobbi yang sibuk berpolitik, dll. Kondisi ini perlu diseimbangkan kembali sehingga semua aspek atau bidang amal da’wah mendapat bobot dan porsi yag proporsional. Hak-hak tarbiyah kader dan kontituen harus bisa dipenuhi dengan baik.
“Berbagai peristiwa dan perjalanan waktu menjadi saksi bahwa perhatian terhadap tarbiyah menjadi penentu bagi kadar kemurnian, kesinambungan, dan perkembangan harakah. Ia juga menjadi ukuran bagi sejauh mana keterpaduan di antara anggota-anggotanya, persatuan shafnya, kerjasamanya, kinerjanya, serta produktivitas dan efektivitas potensi yang dicrahkan, harta yang diinfakkan, dan waktu yang dihabiskan. Sebaliknya, bila aspek tarbiyah ditelantarkan atau kurang mendapat perhatian, maka akan nampak kelemahan dan keguncangan dalam barisan, muncul benih-benih permusuhan dan perpecahan, kinerja semakin melemah dan produktivitas semakin menurun.” (Mushtafa Masyhur)
"Jangan sampai nanti orang-orang tarbiyah dibenci gara-gara berorientasi kepada kekuasaan. Dia tidak boleh berbangga dengan bangunannya. Lalu tertidur-tidur, tidak pernah mengurus urusan hariannya. Tetap dia harus kembali kepada akar masalahnya, akar tarbiyahnya. Tempat kancah dia dibangun. (Ustadz Rahmat Abdullah rahimahullah, poster Sang Murabbi)"
Wallohu Ta’aalaa A’lamu Bish-Showaab
dari: akhwatzone.multiply.com